Cucu Pendiri NU Usulkan Lembaga Permusyawaratan Syuriah untuk Perkuat PBNU

Cucu Pendiri NU Usulkan Lembaga Permusyawaratan Syuriah untuk Perkuat PBNU

Cucu Pendiri NU Usulkan Lembaga Permusyawaratan Syuriah untuk Perkuat PBNU

 Nahdlatul Ulama (NU) membutuhkan kelembagaan kolektif agar menjadi lembaga yang tangguh. Semacam Majelis Permusyawaratan Syuriah.

Hal ini diungkapkan Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, Kiai Abdussalam Shoib alias Gus Salam, Minggu (11/1/2026).

“Saat ini NU butuh kelembagaan kolektif supaya menjadi lembaga yang tangguh dari berbagai intervensi yang memungkinkan, NU di tarik dalam pusaran kepentingan tertentu. Istilah yang bisa digambarkan dengan mudah adalah semacam Majlis Permusyawaratan Syuriah,” ujarnya.

Cucu pendiri NU ini mengatakan,  Majelis Permusywaratan Syuriah terdiri sejumlah ulama yang memimpin NU dalam satu periode secara kolektif,  dan kepemimpinannya ditunjuk bergiliran setiap tahun hingga selesai dalam satu periode lima tahun.

“Majlis Syuriah dapat merumuskan kepemimpinan tanfidziyah dalam satu periode yang di putuskan dalam Muktamar NU. Kenapa ide ini menjadi cara pandang baru dalam keberlangsungan kelembagaan NU. Karena NU membutuhkan itu,” katanya.

Menurutnya, ada beberapa keutamaan yang dapat dijadikan pondasi kekokohan keberlangsungan kelembagaan NU dengan format Majlis Permusywaratan Syuriah.

Pertama, institusi independen, NU  akan mempunyai struktur yang mengembalikan fungsi syuriah sebagai supremasi institusi yang lebih independen, bisa memilah antara sikap individu dan sikap kelembagaan.

“Begitupun dengan kebutuhan keputusan syari’ah keagaamaan, akan memiliki kekuatan yang legitimit karena manjadi pendapat yang jumhur,” imbuhnya.

Kedua, lanjutnya, kontrol kelembagaan. Majlis Permusywaratan Syuriah akan lebih memiliki obyektifitas dalam kontrol kelembagaan NU yang dijalankan oleh tanfidziyah.